animated sakura

Kamis, 24 Februari 2011

Berdoa, Berusaha, Bercermin

Ada sebuah illustrasi lukisan yang mengambarkan gereja yang dibangun bukan dengan batu bata dan semen, tetapi oleh tumpukan-tumpukan pisang.
Idenya adalah untuk menunjukkan bahwa gereja bukanlah kumpulan orang-orang yang sudah sempurna, tetapi sebaliknya orang-orang yang “bengkok” seperti pisang, yang masih dalam proses menuju kesempurnaan.
Melalui illustrasi tersebut, kita disadarkan bahwa apabila seluruh pribadi “pisang” yang tidak sempurna tersebut bisa sehati, serta tunduk pada otoritas Kristus, Sang Kepala, maka tidak mustahil tumpukan-tumpukan pisang tersebut akan berdiri tegak sebagai bangunan tubuh Kristus (gereja).

Tapi, pada prakteknya memang tidak mudah untuk selalu sehati. Konflik pasti saja terjadi dalam komunitas persekutuan Kristen.

Setiap anggota gereja bukanlah orang yang sudah 100% sempurna.

Itulah sebabnya praktek pengampunan adalah bentuk latihan spiritual yang perlu terus dilakukan dalam hidup bergereja.

Mengatasi konflik dalam persekutuan mendorong kita untuk menjalankan apa yang Alkitab ajarkan untuk mengampuni.

Berapa banyak kita perlu mengampuni ?

Yesus katakan “tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18 : 22).
Menarik sekali, kalimat tersebut dilanjutkan dengan pengajaran Yesus tentang “orang yang berhutang” (Mat 18 : 23-35), dimana salah satu inti pengajarannya adalah dalam upaya kita mengampuni orang lain, kita pun perlu Bercermin.

Bercermin artinya, jika kita berkata orang itu telah menyakiti saya dengan perkataan/perbuatannya, jangan-jangan tanpa disadari, saya pun telah melakukan hal yang serupa kepada orang lainnya.

Tentu, selain bercermin, kitapun ditantang untuk Berusaha : tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan.

“Jika seterumu lapar, beri ia makan, dan jika seterumu haus, berilah ia minum, maka dengan berbuat demikian kita menumpukkan bara api di atas kepalanya” (Roma 12 : 20-21).

Mengapa “bara api” ? Mengapa tidak “batu es” ? Aneh bukan ? Perlu diketahui, Paulus mengutip ini dari pengajaran Amsal 25 : 21-22, yang mengacu pada salah satu tradisi Mesir kuno, dimana seseorang membawa bara api yang menyala (di dalam panci/cawan) di atas kepalanya, adalah salah satu bentuk “public act of repentance”.

Itu artinya, dengan tetap membalas kejahatan dengan kebaikan, Tuhan akan bekerja melalui perbuatan kita itu, sehingga hati seteru kita boleh malu, disadarkan, dan berbalik kepada Tuhan - “turn from their sins” (repentance).

Apakah ini mudah ? Tentu tidak ! Itu sebabnya, tidak hanya bercermin dan berusaha, tapi justru pertama-tama kita harus Berdoa.

Tanpa kekuatan dan kesanggupan dari Tuhan, mustahil kita melakukannya. “Sebab diluar Aku (Tuhan Yesus), kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15 : 5).

Hanya dengan pertolongan Roh Kudus-lah, sebagai pribadi-pribadi “pisang” dalam gereja-Nya, boleh disanggupkan untuk hidup lebih saling mengampuni satu dengan yang lain.
~ (author unknown)

God Bless Us..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar