yang lucu, setelah berpuluh-puluh tahun mereka berpacaran, tidak ada juga komitmen untuk saling mengikatkan diri ke hubungan yang lebih resmi... terkadang saya berpikir, ini adalah kebodohan pihak wanita.. (membiarkan dirinya di ombang-ambing dalam hubungan yang nda jelas selama berpuluh-puluh tahun) tapi di lain sisi saya pun menangkap unsur keegoisan pihak pria.. (hanya memikirkan dirinya, s1, s2 dan kini mau s3 nda mau s4, s5?? ckcck... i wonder... apa dia tidak pernah memikirkan si calon istrinya ini.. bayangkan saja,..sebuah luka alami yang di derita oleh orang usia 40 tahun berapa lama penyembuhannya => dalam kondisi kelak andai masih bisa mengandung dan melahirkan secara normal!? dan bagaimana dengan luka buatan sepanjang 20-25 cm pada kulit perut untuk mengeluarkan seorang bayi?? heyy... r u kidding? )
saya tidak bermaksud membanggakan usiaku yang masih kepala 2, tapi dalam kepala 2 ini, terutama tahun ini saya banyak dipaksa berpikir untuk segera menikah menyusul orang-orang terdekat dan memiliki bayi seperti beberapa kerabat.. heyyy... nikah mah gampang, kawin lebih lagi.. (beda istilah saja) tapi yang saya pikirkan kematangan emosional saya dan orang yang mendampingi saya...
bayangkan saja..saat mereka berkata, cepat nyusul nikah sana... ada bayi..kamu suka bayi kan?? (i like them so much.. ) dan saat saya menjawab 2-3 tahun lagi laaa.. saya S2 dulu yaaa.. malah yang saya dapatkan.. => mau jadi perawan tua ya?? XD hah... edan!
kata mereka, seorang wanita tidak kuliah pun tidak apa... (tapi saya memegang prinsip mami... kalau seorang wanita harus PANDAI! kelak dia yang akan mengajarkan calon manusia baru tentang segala hal, bagaimana kalau pendidikannya pas-pasan? bahkan kalau dia tidak terdidik dengan baik dan memadai? akan jadi apa anaknya? kalau anak wanita, mungkin akan jadi anak yang hanya mampu bergantung pada suami dan habis kuliah sisa tunggu kawin, dan kalau pria mungkin akan jadi seorang pria yang mampu memerintah wanita dan tidak memahami pria dan wanita memiliki perbedaan fungsi dalam masyarakat, tapi derajat mereka sama...hanya pria menjadi kepala dalam keluarga...)
saya tidak ingin disaat kelak memiliki anak, saya menegur mereka dengan nada dasar G=do.. ATAU di saat pasangan saya kesal, karena anaknya tidak mendengar kata-katanya, dia memutar-mutar meja, membanting mistar 100 cm hingga patah
ya, saya berharap... bisa menjadi seorang ibu yang tidak mampu memukul anak-anakku tetapi mampu menyadarkan mereka dengan kelakuan dan tatapan mataku.. saya bisa menghitung dengan jari berapa banyak pukulan yang saya dapat hingga usia seperti ini karena kenakalanku..hampir tidak pernah! bentakan? tidak pernah...
sekarang banyak yang menikah karena kebelet! saya menangkapnya "haus seks", karena adalah anggapan yang bodoh menganggap saat pertengkaran dapat terselesaikan dengan "kissing", "making *tiit*"...
okay, mungkin sebuah sentuhan di butuhkan...tapi tidak bermakna sentuhan sampai bla-bla-bla..
memang terkadang sentuhan dapat menenangkan pasangan... sama saat saya merasa tidak tahu harus tersenyum atau menangis melihat dia berdiri di hadapanku, dan pasangan saya menarik tangan saya dengan lembut.. dan saya menangkap itu sebagai sebuah ungkapan kasih "i'm here, don't be afraid..even i'm not saying anything... i hope u know what i feel" ==> BODY LANGUAGE
seharusnya tiap orang menyadari, jangan menjalin hubungan apapun saat belum siap akan sebuah langkah lanjutan... sehingga langkah lanjutan itu tidak menjadi sekedar "pelampiasan" maupun tertunda karena pasangan belum siap (dalam berpikir pasangannya belum menjadi sesempurna yang dia ingini...)
no body perfect... tapi menjadikan pernikahan sebuah pelarian?? i don't think so...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar